Menteri Agama Dorong Dilakukan Injeksi Computational Thinking di Madrasah
(Menteri Agama)
JAKARTA - Menteri Agama ( Menag) Fachrul
Razi mendorong dilakukannya Injeksi Computational Thinking (CT) di
lingkungan Madrasah. Hal ini perlu dilakukan demi mempersiapkan siswa madrasah
yang berdaya saing dan mampu beradaptasi dalam dunia digital di Era Industri
4.0. Computational Thinking (CT) atau pemikiran komputasi merupakan kecakapan
berpikir seperti para ilmuwan komputer dan menggunakan kemampuannya untuk
menyelesaikan permasalahan di dunia nyata.
"Saat ini, kita memasuki Era
Industri 4.0, ada pergeseran kebutuhan profil kompetensi dulu dengan kebutuhan
kompetensi anak-anak kita sekarang dan nanti di abad 21," ucap dia lewat
keterangan resminya, melansir laman Kemenag, Senin (2/11/2020).
Dia mengaku, di Era Industri 4.0
membawa implikasi terhadap disrupsi jenis dan bentuk profesi di masa depan.
Banyak ahli memprediksi bahwa di masa mendatang akan ada banyak profesi
pekerjaan yang hilang atau tidak lagi dibutuhkan dan akan lahir jenis dan
bentuk profesi baru yang mungkin belum kita kenal.
"Banyak pekerjaan mungkin akan
tergantikan oleh robot. Inilah tantangan dunia pendidikan kita saat ini,"
terangnya.
Demi mengantisipasi itu, dia berpesan
untuk tiga hal. Pertama, dia berharap pendidikan harus mampu membekali siswa
dengan kemampuan untuk mengatur, memerintahkan, dan menguasai robot. Bukan
malah sebaliknya manusia yang diatur dan dikuasai oleh robot.
"Kedua, saatnya kita mulai
mengubah mindset dan orientasi pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada
formalitas administratif saja, seperti ijazah, gelar, piagam, dan
sebagainya," ucap Menteri Fachrul.
Ketiga, Menag mengingatkan pentingnya
penguasaan kemampuan dasar tentang logika, kemampuan berbahasa dan
berkomunikasi yang baik, kemampuan dasar matematika dan ilmu alam. Pesatnya
kemajuan teknologi artificial intelligence (AI) dan robotik saat ini tidak
mungkin dapat dikendalikan, jika tidak mempunyai kemampuan dasar yang
dibutuhkan.
"Dalam konteks inilah kebutuhan
penguasaan computational thinking bagi anak didik kita merupakan sebuah
keniscayaan dan tuntutan zaman yang tidak bisa terhindarkan jika kita ingin
mereka tetap survive di masa mendatang," harapnya.
Guru dan siswa harus jadi pemain AI
dan robotic di 2021 Dia juga mengingatkan agar para siswa, siswi serta guru
madrasah tidak hanya puas menjadi penonton dan penikmat teknologi saja. Tetapi
sebaliknya, mereka juga harus menjadi pemain teknologi artificial intelligence
dan robotik abad 21.
Dia menambahkan, madrasah pun
memiliki tanggung jawab untuk mengendalikan pesatnya kemajuan iptek yang nyaris
bebas nilai tersebut, dengan landasan nilai-nilai agama.
"Inilah tantangan anak-anakku,
siswa dan siswi madrasah agar mampu mengintegrasikan Iptek dan Imtaq secara seimbang
dan proporsional,” tukas Menag," tegas dia.(sumber:
kompas.com)